Apa Itu PBV Saham? Panduan Memilih Saham Murah
Apa itu PBV saham? Pelajari cara menghitung Price to Book Value dan menggunakannya untuk memilih saham murah di bursa efek Indonesia.
Oleh Tim TradingHub Standar editorial ≈ 8 menit baca
Yang akan Anda pelajari
Memilih saham yang tepat adalah kunci kesuksesan dalam investasi. Salah satu metrik yang sering digunakan investor untuk menilai apakah sebuah saham layak dibeli atau tidak adalah rasio Price to Book Value (PBV). Namun, apa sebenarnya PBV itu dan bagaimana cara memanfaatkannya? Memahami PBV dapat membantu Anda mengidentifikasi saham yang berpotensi undervalued atau dibeli dengan harga murah.
Apa itu PBV (Price to Book Value)? Cara Pilih Saham Murah
Price to Book Value (PBV) adalah rasio keuangan yang membandingkan harga pasar saham suatu perusahaan dengan nilai bukunya per saham. Nilai buku perusahaan dihitung dengan mengambil total aset perusahaan dan menguranginya dengan total liabilitasnya. Angka ini merepresentasikan nilai aset bersih perusahaan jika perusahaan tersebut dilikuidasi pada nilai buku yang tercatat di neraca. Secara sederhana, PBV menunjukkan berapa kali investor bersedia membayar lebih dari nilai buku aset bersih perusahaan untuk setiap lembar sahamnya.
Rumus perhitungan PBV adalah sebagai berikut:
PBV = Harga Saham per Lembar / Nilai Buku per Lembar
Atau, jika ingin menghitung dari total nilai:
PBV = Kapitalisasi Pasar / Total Nilai Buku (Aset Bersih)
Kapitalisasi pasar adalah total nilai pasar perusahaan yang dihitung dengan mengalikan jumlah saham beredar dengan harga saham saat ini. Sementara itu, nilai buku per lembar dihitung dengan membagi total aset bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar.
Investor seringkali mencari saham dengan PBV rendah, terutama yang di bawah 1. Angka PBV di bawah 1 secara teoritis menandakan bahwa harga pasar saham perusahaan lebih rendah daripada nilai aset bersihnya. Ini bisa menjadi sinyal bahwa saham tersebut diperdagangkan dengan diskon, atau dengan kata lain, ‘murah’. Namun, penting untuk diingat bahwa PBV rendah saja tidak cukup sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Perlu analisis lebih lanjut untuk memahami alasan di baliknya.
Bagaimana cara kerjanya
Cara kerja PBV berpusat pada perbandingan antara persepsi pasar (harga saham) dengan nilai fundamental perusahaan (nilai buku). Berikut adalah langkah-langkah dan logika di baliknya:
-
Identifikasi Nilai Buku Perusahaan: Langkah pertama adalah menghitung nilai buku perusahaan. Ini dilakukan dengan melihat laporan keuangan perusahaan, khususnya neraca (balance sheet). Nilai buku dihitung sebagai:
Nilai Buku = Total Aset - Total LiabilitasAngka ini mencerminkan ekuitas pemegang saham berdasarkan nilai tercatat aset. -
Hitung Nilai Buku per Lembar Saham: Setelah mendapatkan total nilai buku, langkah selanjutnya adalah membaginya dengan jumlah saham yang beredar (outstanding shares).
Nilai Buku per Lembar = Total Nilai Buku / Jumlah Saham BeredarContoh: Jika total nilai buku perusahaan Rp 100 miliar dan jumlah saham beredar adalah 100 juta lembar, maka nilai buku per lembar adalah Rp 1.000. -
Dapatkan Harga Pasar per Lembar Saham: Harga pasar saham adalah harga yang berlaku saat ini di bursa efek. Misalnya, jika saham perusahaan tersebut diperdagangkan pada Rp 800 per lembar.
-
Hitung Rasio PBV: Terakhir, bagi harga pasar per lembar dengan nilai buku per lembar.
PBV = Harga Saham per Lembar / Nilai Buku per LembarDalam contoh di atas:PBV = Rp 800 / Rp 1.000 = 0.8 -
Interpretasi Hasil:
- PBV < 1: Menunjukkan bahwa harga pasar saham lebih rendah dari nilai buku per lembar. Ini bisa berarti saham tersebut undervalued, atau ada masalah fundamental yang belum tercermin sepenuhnya di harga pasar.
- PBV = 1: Menunjukkan harga pasar sama dengan nilai buku per lembar.
- PBV > 1: Menunjukkan harga pasar lebih tinggi dari nilai buku per lembar. Ini bisa berarti investor optimis terhadap prospek perusahaan, atau saham tersebut overvalued.
Investor value investing seringkali menggunakan PBV sebagai salah satu kriteria utama. Mereka mencari perusahaan yang memiliki PBV rendah karena dianggap menawarkan margin keamanan yang lebih besar. Jika perusahaan bangkrut sekalipun, nilai aset yang tersisa (sesuai nilai buku) diharapkan dapat menutupi harga yang dibayarkan investor.
Contoh nyata
Mari kita ambil contoh saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Misalkan kita menganalisis PT “Aman Sentosa Tbk” (kode saham: AMAN).
Berdasarkan laporan keuangan kuartal terakhir:
- Total Aset: Rp 5 triliun
- Total Liabilitas: Rp 3 triliun
- Jumlah Saham Beredar: 500 juta lembar
- Harga Saham Saat Ini: Rp 4.500 per lembar
Langkah perhitungannya:
-
Hitung Nilai Buku Perusahaan:
Nilai Buku = Total Aset - Total LiabilitasNilai Buku = Rp 5.000.000.000.000 - Rp 3.000.000.000.000 = Rp 2.000.000.000.000(Rp 2 triliun) -
Hitung Nilai Buku per Lembar Saham:
Nilai Buku per Lembar = Total Nilai Buku / Jumlah Saham BeredarNilai Buku per Lembar = Rp 2.000.000.000.000 / 500.000.000 lembar = Rp 4.000 -
Hitung Rasio PBV:
PBV = Harga Saham per Lembar / Nilai Buku per LembarPBV = Rp 4.500 / Rp 4.000 = 1.125
Dalam contoh ini, PBV saham AMAN adalah 1.125. Ini berarti investor bersedia membayar sekitar 1.125 kali nilai buku aset bersih perusahaan untuk setiap lembar sahamnya. Angka ini sedikit di atas 1, yang menunjukkan bahwa saham tersebut diperdagangkan dengan premi tipis dibandingkan nilai aset bersihnya.
Sekarang, mari kita bandingkan dengan PT “Maju Terus Tbk” (kode saham: MJUT) yang memiliki data:
- Total Aset: Rp 10 triliun
- Total Liabilitas: Rp 8 triliun
- Jumlah Saham Beredar: 1 miliar lembar
- Harga Saham Saat Ini: Rp 1.800 per lembar
Perhitungan untuk MJUT:
- Nilai Buku Perusahaan: Rp 10 triliun - Rp 8 triliun = Rp 2 triliun
- Nilai Buku per Lembar: Rp 2 triliun / 1 miliar lembar = Rp 2.000
- PBV: Rp 1.800 / Rp 2.000 = 0.9
Saham MJUT memiliki PBV 0.9, yang berarti diperdagangkan di bawah nilai buku aset bersihnya. Ini bisa menjadi indikasi awal bahwa saham MJUT lebih menarik dari sudut pandang valuasi murah dibandingkan AMAN, asalkan fundamental perusahaan tetap sehat.
Perlu dicatat bahwa PBV dapat bervariasi antar sektor industri. Sektor padat modal seperti manufaktur atau properti cenderung memiliki PBV lebih rendah karena aset fisik mereka yang besar. Sementara itu, sektor jasa atau teknologi mungkin memiliki PBV lebih tinggi karena aset mereka lebih bersifat intangible (merek, paten, software) yang tidak sepenuhnya tercermin dalam nilai buku.
Kapan ini penting untuk trader
Rasio PBV sangat relevan bagi trader dan investor yang menganut gaya investasi value investing atau contrarian investing. Gaya ini fokus pada pencarian aset yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya.
-
Untuk Investor Value: PBV adalah salah satu indikator utama. Investor mencari saham dengan PBV rendah (idealnya di bawah 1) sebagai sinyal potensi undervalued. Mereka percaya bahwa pasar terkadang salah menilai aset, dan harga saham yang lebih rendah dari nilai buku adalah kesempatan untuk membeli aset berkualitas dengan diskon.
-
Untuk Trader Jangka Panjang: Trader yang berencana memegang saham untuk periode lama akan sangat memperhatikan PBV. Mereka ingin memastikan bahwa mereka tidak membayar terlalu mahal untuk aset yang fundamentalnya kuat. PBV yang rendah memberikan bantalan keamanan jika terjadi volatilitas pasar jangka pendek.
-
Untuk Analisis Sektoral: PBV berguna untuk membandingkan valuasi perusahaan dalam industri yang sama. Jika sebuah perusahaan memiliki PBV yang jauh lebih rendah dari rata-rata industrinya, ini bisa menjadi tanda untuk diselidiki lebih lanjut. Apakah perusahaan tersebut memiliki masalah operasional, atau pasar memang belum menyadari potensinya?
-
Trader yang Bisa Mengabaikan PBV: Trader yang berfokus pada momentum trading atau swing trading jangka pendek mungkin tidak terlalu bergantung pada PBV. Fokus mereka adalah pergerakan harga jangka pendek, pola teknikal, dan sentimen pasar. Bagi mereka, PBV yang tinggi atau rendah mungkin kurang relevan dibandingkan indikator teknikal.
-
Pentingnya Konteks: PBV paling efektif jika digunakan bersama metrik lain seperti Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), dan pertumbuhan pendapatan. PBV yang sangat rendah bisa jadi pertanda buruk jika perusahaan terus merugi atau memiliki utang yang sangat tinggi, yang mengikis nilai asetnya dari waktu ke waktu.
Kesalahan umum
Banyak trader pemula terjebak dalam perangkap saat menggunakan rasio PBV. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari:
-
Hanya Mengandalkan PBV Rendah: Kesalahan terbesar adalah membeli saham hanya karena PBV-nya di bawah 1 tanpa melihat alasan di baliknya. PBV yang sangat rendah bisa menjadi ‘value trap’, indikasi bahwa perusahaan memiliki masalah fundamental serius, seperti penurunan pendapatan yang terus-menerus, aset yang usang, atau prospek bisnis yang suram. Selalu kombinasikan PBV dengan analisis profitabilitas (misalnya ROE) dan kesehatan neraca (misalnya DER).
-
Mengabaikan Perbedaan Sektor: Membandingkan PBV saham dari sektor yang berbeda secara langsung adalah kesalahan. Sektor teknologi mungkin wajar memiliki PBV 5x, sementara sektor manufaktur berat mungkin dianggap mahal jika PBV-nya di atas 2x. Selalu bandingkan PBV suatu perusahaan dengan rata-rata PBV industri sejenisnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.
-
Mengabaikan Kualitas Aset: Nilai buku dihitung berdasarkan nilai tercatat aset. Namun, aset tersebut bisa saja sudah usang, sulit dijual, atau nilainya menurun drastis di pasar sekunder. Perusahaan dengan aset yang nilainya meragukan bisa saja memiliki PBV rendah namun tidak benar-benar undervalued. Analisis kualitas aset yang mendasarinya, bukan hanya angka di neraca.
-
Mengabaikan Pertumbuhan: Perusahaan yang memiliki PBV rendah tetapi tidak memiliki potensi pertumbuhan pendapatan atau laba di masa depan, mungkin tidak akan memberikan imbal hasil yang signifikan. Investor value mencari perusahaan yang sehat dan undervalued, tetapi juga memiliki prospek untuk berkembang. PBV rendah pada perusahaan yang stagnan atau menurun mungkin tidak menarik.
-
Tidak Memperhitungkan Liabilitas: Rumus nilai buku adalah Aset dikurangi Liabilitas. Jika liabilitas perusahaan sangat tinggi, nilai bukunya bisa saja tampak rendah, namun perusahaan tersebut sebenarnya berisiko tinggi karena beban utangnya. Perhatikan rasio utang terhadap ekuitas (DER) untuk mendapatkan gambaran risiko keuangan yang lebih lengkap.
Ringkasan singkat
- PBV (Price to Book Value) mengukur valuasi saham relatif terhadap nilai buku aset bersihnya.
- Rumus:
PBV = Harga Saham / Nilai Buku per Lembar. - PBV < 1 secara teori berarti saham diperdagangkan lebih murah dari nilai aset bersihnya, sering dicari investor value.
- PBV > 1 berarti investor bersedia membayar premi di atas nilai buku.
- Penting untuk investor value, trader jangka panjang, dan analisis sektoral.
- Hindari hanya mengandalkan PBV rendah, bandingkan antar sektor, periksa kualitas aset, dan pertimbangkan pertumbuhan serta liabilitas.

